Cerita Jokowi Bentak Bos Pertamina Gegara Lelet Eksekusi Proyek Ini

Radar Nusantara

 

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) blak-blakan sempat membentak Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero). Kemarahan Jokowi karena perusahaan minyak dan gas milik negara itu lelet mengeksekusi proyek kilang PT Trans Pacific Petro chemical Indotama (TPPI).

Hal itu disampaikan Jokowi di depan para jajaran direksi dan komisaris Pertamina. Dalam pengarahan Jokowi, hadir pula Dirut Pertamina Nicke Widyawati. Pengarahan tersebut digelar pada 16 November 2021 lalu yang diunggah di saluran YouTube Sekretariat Presiden hari ini, Sabtu (20/11/2021).

BACA JUGA : Jajal Mobil Listrik, Presiden Dorong Pembangunan Ekosistem Mobil Listrik

“Investasinya US$ 3,8 miliar, juga sudah bertahun-tahun ini sudah sebelum kita sudah ada, kemudian ada masalah, belum jalan-jalan juga,” kata Jokowi mengenai kilas balik proyek TPPI yang kala itu belum berjalan.

Jokowi pun mengaku begitu dilantik sebagai presiden di periode pertama langsung mendatangi TPPI, tepatnya pada 2014 lalu. Saat itu Nicke belum menjadi Dirut Pertamina. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu melihat besarnya potensi dari proyek TPPI.

Lalu terakhir kali Jokowi ke TPPI, Jokowi bercerita bahwa dirinya membentak Dirut Pertamina. Sebab, alasan yang diterima Jokowi mengenai penyebab proyek tersebut belum jalan klise.

“Setelah saya dilantik 2014 saya langsung ke TPPI, karena saya tahu barang ini kalau jalan bisa menyelesaikan banyak hal. Ini barang substitusi impor itu ada di situ semuanya, semuanya, turunan dari banyak sekali, petrokimia, petrochemical di situ, sehingga waktu Bu Dirut, saya ke sana yang terakhir, Bu Dirut cerita itu ya saya bentak itu karena memang benar, diceritain hal yang sama gitu lho,” ungkapnya.

BACA JUGA : Presiden Jokowi: Posisi Indonesia Makin Dipandang dan Dihormati Negara Lain

“Bu, nggak nggak-nggak-nggak, saya nggak mau cerita itu lagi, saya sudah dengar dari cerita dirut-dirut sebelumnya,” kata Jokowi blak-blakan.

Dia mengatakan bahwa sudah dilakukan tender sebanyak dua kali di proyek tersebut. Namun hasilnya begitu-begitu saja. Dirinya menegaskan bahwa selalu memantau perkembangan proyek TPPI.

“Negara itu, kita itu penginnya neraca transaksi berjalan kita baik, neraca perdagangan baik, impor nggak banyak, karena kita bisa produksi sendiri, karena kita punya industrinya, kita punya mesinnya, kita punya bahan bakunya. Kok nggak kita lakukan, malah impor, itu yang saya sedih,” ujarnya.

Dia memastikan begitu proyek TPPI ini rampung maka Indonesia bisa mengurangi impor dalam jumlah yang sangat besar, terutama yang berkaitan dengan petrokimia (petrochemical) dan produk turunannya.

Oleh karena itu dia heran kenapa proyek sebagus itu tidak dieksekusi dengan cepat. Padahal Pertamina akan mendapatkan keuntungan dari situ. Negara pun dapat keuntungan dari substitusi impornya yang ujungnya membuat neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan membaik.

Ridwan Onchy

Kma Dan Radar Nusantara

https://www.kmastore.id