Inilah Hukum Berpenampilan Mirip Ulama

Radar Nusantara

Orang yang tidak paham agama tetapi mendadak jadi ustadz dan ulama menjadi fenomenda baru di era teknologi informasi. Cukup bermodal Al-Qur’an terjemahan dan sedikit pengetahun agama yang dipelajari dari internet, mereka ikut mengomentari setiap masalah agama yang sedang menjadi perbincangan di tengah-tengah masyarakat digital.

Penampilan mereka yang didukung kemampuan publik speaking yang baik ditambah kostum layaknya seorang ulama membuat mereka mendapatkan tempat di hati masyarakat, khususnya bagi mereka sedang semangat-semangatnya belajar agama.

BACA JUGA : 6 GusDur Layak Jadi Panutan Anak Muda Dalam Menghargai Perbedaan

Sebenarnya tidak telalu bermasalah jika apa yang mereka sampaikan memang sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai agama yang diyakini oleh jumhur ulama. Ironisnya, pandangan mereka tentang agama justru lebih sering bertentangan. Label ulama atau ustadz yang telah diperolehnya semakin membuat mereka jumawa dan berlagak orang yang punya otoritas dalam memahami agama.

Ada banyak hal yang bisa dibahas dari fenomenda ini. Namun, artikel ini hanya akan membahas bagaimana hukumnya bagi mereka yang tidak paham agama tetapi berdandan layaknya seorang ulama yang memiliki otoritas menentukan pandangan keagamaan. Pengetahuan ini penting untuk diketahui karena belakangan orang-orang semacam itu sering kita jumpai.

Sudah banyak kejadian dari oknum yang mengaku ulama serta banyak kaum muslim yang tertipu olehnya. Jika hanya dilihat dari caranya berpakaian, orang tidak meragukan keulamaanya. Mereka tampil maksimal dengan jubah dan surban yang boleh dikatakan lebih mengungguli ulama yang benar-benar alim.

Bagaimanakah hukum berdandan seperti ulama? Penjelasan mengenai masalah ini bisa dilihat dalam kitab Kitab Tanwiirul Quluub halaman dan Kitab Ghidzaa`ul albaab.

Dalam Kitab Quluub disebutkan:

ومن البدع توسيع الثياب والأكمام لكنه مكروه لا حرام إلا ما صارشعارا للعلماء فيندب لهم ليعرفوا ويحرم على غيرهم التشبه بهم في ذلك لئلا يغتر بهم فيستفتوا فيفتوا بغير علم كما أنه يحرم على من ليس بصالح التزيي بزي الصالحين ليغر غيره ومثله لبس العمامة الخضراء لغير شريف وقد جعلت على أولاد فاطمة الزهراء

Sementara dalam Kitab Ghidzaa`ul albaab disebutkan:

فائدة ) : سئل الحافظ جلال الدين السيوطي عن طالب علم تزيا بزي أهل العلم ، وهو في الأصل من قرى البر ، ثم لما رجع إلى بلاده وعشيرته تزيا بزيهم وترك زي أهل العلم هل يعترض عليه في ذلك أم لا ؟ أجاب بما معناه لما اتصف بالصفتين لا اعتراض عليه في أي الزيين تزيا ، لأنه إن تزيا بزي العلماء فهو منهم ، وإن تزيا بزي أهل بلده وعشيرته فلا حرج عليه اعتبارا بالأصل ولأنه بين أظهر عشيرته وقومه

Penjelasan :

Orang awam yang tidak faham masalah agama dilarang berdandan dengan dandanan khusus ulama. Dan termasuk bid’ah adalah meluaskan pakaian dan kum tetapi hukumnya makruh (bid’ah makruh), bukan haram (bid’ah haram). Kecuali pakaian itu menjadi syiar bagi ulama maka hukumnya sunnah bagi mereka (ulama) agar diketahui. Haram bagi selain ulama menyerupai ulama dalam hal itu agar tidak menipu dengannya, maka mereka dimintai fatwa lalu memberikan fatwa tanpa ilmu.

Al-hafidz Jalaluddin al suyuthi ditanya tentang seorang pelajar yang berdandan dengan dandanan ahlul ilmi dan murid tersebut berasal dari daerah perkampungan. Kemudian ketika kembali ke negara nya dan berkumpul dengan keluarganya, dia meninggalkan dandanan ahlul ilmi dan kembali memakai dandanan adat nya.

BACA JUGA : GUS MUS : BANYAK YANG PAMER KEBODOHAN KARENA GAK MAU NGAJI

Apakah bermasalah bagi pelajar tersebut apa tidak?

Ketika dia menggunakan sifat dengan dua sifat sekaligus maka tidak ditentang keberadaan nya, apapun bentuk dandanan yang dia gunakan. Karena bila dia berdandan dengan dandanan ahlul ilmi, maka dia termasuk golongan mereka alhlul ilmi. Dan ketika berdandan dengan tradisi golongan negerinya dan keluarganya, maka tidak mengapa karena itu dianggap kembali ke asal karena dia menampakkan tradisi keluarga dan golongan di negerinya sang pencari ilmu tadi.

Demikian penjelasan Abdullah Afif dan Hayat Alkafi ketika menjelaskan hukum berdandan seperti ulama

(sumber: www. piss-ktb. Com).

Kesimpulan yang bisa ditarik dari penjelasan di atas adalah larangan mengenakan pakaian ala ulama (ahlul ilmi) apabila dengan pakaian tersebut dapat menipu orang lain.

Waallahu Alam…