SANDI PETUGAS DAMKAR DEPOK

Radar Nusantara

Seorang petugas Damkar di kota paling syariah se-Indonistan, Depok (De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen) bernama Sandi nekat menyuarakan soal dugaan korupsi di satuan kerjanya.

Akan tetapi, keberanian Sandi membongkar dugaan korupsi ini justru direspons oleh pejabat biadab di lingkungan kota syariah itu dengan permintaan Mengundurkan diri.

Bermula ketika Sandi melakukan aksi di Balai Kota Depok di Jalan Margonda Raya, Kota Syariah Depok, beberapa waktu lalu.

BACA JUGA : Membangun Kemandirian Rakyat dalam Olahraga

Dalam aksinya itu, Sandi membawa poster bertulisan ‘Bapak Kemendagri tolong, untuk tindak tegas pejabat di dinas pemadam kebakaran Depok. Kita dituntut kerja 100 persen, tapi peralatan di lapangan pembeliannya tidak 10 persen, banyak #digelapkan!!!’.

Salah satu dugaan korupsi yang diungkap Sandi adalah pengadaan sepatu safety. Menurutnya, petugas Damkar tidak mendapatkan sepatu lapangan yang sesuai spesifikasi.

“Terakhir 2018 itu juga sepatu sepatu kami bukan yang sepatu bot, sepatu PDL itu nggak ada safety-nya sama sekali. Nggak ada besi pengamannya, yang depan nggak ada besinya, yang bawah nggak ada besinya. Istilahnya kami kadang untuk panggilan warga evakuasi itu kan ya sempet ada kejadian temen kena beling, tapi pejabat diam aja,” ujar Sandi saat dihubungi.

BACA JUGA : Cara Cek Data Penerima Bansos

Sandi juga mengaku tidak pernah mendapatkan baju pemadam kebakaran sejak 2019. Padahal, menurutnya, ada anggaran khusus untuk pengadaan baju pemadam kebakaran setiap tahun.

“Terus kami selama 2 tahun, tahun 2019 sampai 2020, 2021 sekarang juga kita belum (mendapatkan baju pemadam kebakaran). Untuk 2021 sudah ngukur baju, katanya, tapi 2019 dan 2020 itu kita nggak dapat baju, tapi saya cari tahu ternyata ada buktinya memang sudah ada anggarannya itu, nah tapi #bajunya itu di mana?” jelasnya.

Aksi Sandi Kemudian Berujung SP

Pasca viral di media sosial. Tidak lama kemudian, Sandi dipanggil oleh sejumlah oknum biadab di Pemkot hingga akhrinya ia diberi Surat Peringatan (SP) dengan alasan Tidak Jelas.

“Begitu juga saya, kemarin saya dikasih SP, Danru saya nanya ‘Kenapa anak buah saya dikasih SP, dalam hal apa?’. Terus saya juga pertanyakan SP saya dalam hal apa, kalau dalam kerjaan saya kerja rajin, saya masuk terus, sampai saya sakit saya bekerja, nggak pernah nggak masuk, pejabat cuma intinya ngasih SP,” imbuhnya.

BACA JUGA : Cara Membuat Akun di Kma

Tidak hanya itu, Sandi juga diminta mengundurkan diri setelah mempertanyakan perihal pemotongan insentif.

“Ya ditanya seperti itu, ‘Sudah kamu nggak ngerti, kalau kamu protes mulu ya bikin surat pengunduran diri aja, masih banyak yang mau kerja di Damkar’. Anak-anak kalau secara seperti itu, sudah 5 tahun omongan mereka seperti itu,” ungkapnya.

Sumber : detikcom

catatan sejarah:
Asal nama Depok berasal dari singkatan bahasa Belanda “De Eerste Protestantse Organisatie van Kristenen” yang artinya organisasi jemaat Kristen Protestan pertama.

Kota Depok menurut sejarahnya berawal dari Cornelis Chastelein yang mendatangkan sejumlah besar bekas budak dari luar Jawa (Kalimantan, Sulawesi, Timor dan Maluku).

Karena Cornelis ini anti perbudakan, maka para penggarap tanah pertanian ini tidak disebut “budak” tetapi dianggap keluarga dan akhirnya membentuk 12 marga.

Uniknya, beberapa ratus tahun kemudian kota ini justru malah dikuasai oleh para fundamentalis dari kampung sebelah.

DamkarWajibDipersenjatai

CoronaMasihMenggila

AyoDukungSandi

Depokdikuasaifundamentalis