TATA KRAMA JOKOWI-PRABOWO

Radar Nusantara


Oleh : Zeng Wei Jian

Radar Nusantara – Manusia Jawa hadir dan mewarnai keindahan semesta alam. Ada tata dan etika yang membuat Peradaban Jawa tetap ada. Pa Prabowo penerus tata krama tinggi Jawa.

Tata krama tak sekadar hiasan dalam budaya Jawa; sebuah media fungsional efektif bagi raja-raja mengontrol pejabat-pejabatnya.

Tata krama Jawa tampak pada tiga jenis bahasa i.e. Krama Alus, Krama Madya dan Ngoko. ‘Tata’ berarti adat, aturan, norma, peraturan. ‘Krama’ berarti sopan-santun, kelakuan, tindakan, perbuatan. Dengan demikian tata krama berarti aturan bertindak dan bersopan santun.

BACA JUGA : ZIG-ZAG M. LUTFI

Kamus Umum Bahasa Indonesia karya WJS Poerwadarminta menjelaskan ‘sopan’ adalah hormat dan takzim (akan, kepada) atau tertib menurut adat yang baik. ‘Santun’ adalah halus dan baik bahasanya, baik tingkah lakunya atau sabar dan tenang.

President Jokowi tanya Puan, Airlangga, Sandiaga Uno, Erick Tohir, dan Pa Prabowo Subianto. “Mau maju jadi presiden ga,” tanya Mr. President.

Puan, Airlangga, Sandiaga Uno dan Erick Tohir senada seucap; Maju…!! Pa Prabowo agak lain. Dia jawab, “Kalo ada izin bapak”.

Dasyat jawaban Pa Prabowo. This is royal Etiquette. Tata krama Jawa tinggi. Unggah-ungguh. Nuwun-nuwun, ndherek langkung, nuwun sewu. Philosophy Ora ilok. Praxis pendidikan “wedi, isin, dan sungkan”.

Ora ilok ngomong langsung “maju” di depan presiden. Adigang-adigung-adiguna. Tanpa restu Raja, bisa kualat. Pa Prabowo memposisikan President Jokowi di tempat paling terhormat.

BACA JUGA : Legalisasi “Law As a Tool of Crime” di Penangkapan Wilson Lalengke Penulis : Heintje G. Mandagi Ketua Dewan Pers Indonesia dan Ketum DPP SPRI

Joel Kupperman membedakan moral philosophy West dan Timur. Menurutnya fokus Western moral philosophy di “big moment ethics”.