Theo Hesegem Pembela Ham : PERANG ANTARA MILITER dan TPNPB/ OPM SEDANG BERLANGSUNG DI KOTA KABUPATEN NDUGA DI DISTRIK KENYAM

Radar Nusantara

Radar Nusantara, Wamena – Situasi di Ndugama/darakma sulit dikendalikan, masyarakat sipil mengalami trauma yang panjang

Pagi ini minggu 3 April 2022, saya menerima telpon singkat seorang anggota DPRD Kabupaten Nduga yang sedang berada disana sejak tanggal 26 Maret 2022, dia termasuk yang mengamankan situasu di Daerah Kota Kabupaten Nguda, hingga sampai hari ini beliau menyampaikan bahwa Saat ini situasi Kabupaten Nduga sangat darurat TPNPB/OPM telah melakukan penyerangan di beberapa tempat di kota Kabupaten.

Menurutnya tadi malam tanggal 3 April 2022, TPNPB/OPM yang pimpinan Egianus Kogoya melakukan penyerangan dari berbagai sudut di pusat kota Kabupaten Kenyam Nduga. Penyerangan yang dimaksud dilakukan pada malam jam 9 WIT sampai jam 3 subuh.

BACA JUGA : Panglima TNI Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi Kodam Kasuari. Pastikan Program Vaksin di Papua Barat Berjalan

Menurut saya kondisi ini sangat memperihatinkan karena masyarakat sipil mengalami kesulitan untuk mencari nafka hidupnya, kesulitan ini dialami sejak dari tanggal 26 Maret 2022 hingga sampai hari ini, mereka belum bisa keluar berkebun dan mencari makan seperti biasanya. Biasanya mereka mencari makan di kebun sepanjang kali Kenyam, namun di daerah tersebut dijadikan sebagai tempat lapangan perang dan selama ini terjadi baku tembak antara TPNPB/OPM VS TNI/ POLRI. Sehingga masyarakat mengalami kesulitan mencari makan. Karena tidak keluar mencari makan di kebun.

Rasa takut dan trauma bukan hanya dialami masyarakat asli Nduga tetapi juga dialami Masyarakat Non Papua, sehingga mereka tidak keluar rumah.

Perlu ketahui bahwa Penyerangan yang dilakukan TPNPB/OPM yang dipimpin saudara Egianus Kogoya bukan lagi di hutan, tetapi mulai melakukan penyerangan di Kota Kabupaten Kenyam.

Sebagai pembela HAM saya telah menyampaikan himbauan kepada TPNPB/ OPM dan TNI/POLRI tidak lagi mengganggu dan menyerang warga Masyarakat sipil Papua dan Warga Non Papua yang bedomisili di Kenyam

Direktur Yayasan Keadilan dan ketutuhan Manusia Papua, dan juga sebagai pembela HAM Theo Hesegem di tanah Papua. menganalisa, bahwa kekerasan dan kontak senjata tidak pernah akan berakhir.

Berdampak dari kekerasan kontak senjata masyarakat bisa mengalami rentetan tembakan. Karena menurut analisa saya kekerasan tidak akan berhenti kalau kedua belah pihak telah lakukan perlawanan dimana masyarakat sedang berada.Oleh karena itu masyarakat minta kepada Pemerintah Pusat untuk segera menyikapi konflik bersenjata yang sedang berlangsung di tanah Papua.

BACA JUGA : Tutup Peparnas XVI Papua. Presiden: Bukan Hanya Torang Bisa. tetapi Torang Hebat

Informasih yang saya menulis melalui artikel ini, informasi yang saya dapat dari orang yang terpercaya, oleh karena itu saya menulis dan meneruskan kepada pemerintah sebagai Pengambil kebijakan, sehingga ada solusi untuk mencari jalan keluar melalui dialog yang difasilitasi oleh Pihak ketiga, atau pemerintah Pusat mengijinkan Dewan Ham PBB atau tim indefenden melakukan Pemantauan di Tanah Papua.