TIDAK TANGGUNG-TANGGUNG, DENGAN SEL MONO NUKLIR DENDRITIK , TERAWAN , CS, MENGGANYANG COVID-19 br FROM NOVEL corona virus TO NOBEL PRIZE

Radar Nusantara

Oleh : Max Umbu

Bandung, 19 Februari 2021_
PENDAHULUAN

Spike virus dilawan dengan spike sel mono nuklir dendrit ( yang merupakan bagian dari sel darah putih- leukosit).
Sel mono nuklir dendrit yang juga dengan fungsi utama SEMACAM AGEN RAHASIA- INTELIJEN, mengumpulkan semua informasi rahasia yang dibutuhkan untuk memerangi antigen ( covid-19) , di suplai ke badan sel ( soma) untuk selanjutnya di tindak lanjuti oleh antibodi ( semacam tentara -pasukan ), mengeksekusi covid-19 dalam satu kali suntijan saja ( one way- one touch) seumur hidup ( permanen ) , tidak berkala- berulang dan temporer. Sel mono nuklir dengan killing punch super .

Ketika spike ( tonjolan seperti duri virus ) di hadang – di patahkan- dihancurkan oleh moncong senjata mono nuklir berbentuk seperti ujung duri bercabang – menyebar seperti formasi akar pohon yang menguasi – memadati area infeksi. Duri ketemu duri. Jembatan penghubung antara sel Covid-19 yang menggunakan spike duri yang komponen utamanya GLIKOPROTEIN , tumbuh diseputar badan sel covid-19 terlidung kapsul yang komponen membran utamanya adalah lemak ( lipid), sebuah struktur yang sebebarnya amat rapuh tapi ganas , gesit dan mematikan.

BACA JUGA : JAGA DIRI agar IMUNITAS tubuh kita TINGGI

Vaksin Nusantara tergolong jenis kekebalan adaptif yang dalam sekali suntik vaksinasi seunur hidup akan selalu menyesuaikan dengan tantangan yang awaknya sudah dikenali. Strategi ini biasanya akan dipilih oleh para saintis tulen yang tidak mempertimbangkan aspek keuntungan pribadi dan kebergantungan secara bisnis, semata-mata prioritas keselamatan umat manusia. Cara ini hanya bisa jadi pilihan jika ada prioritas oleh negara ( yang menempatkan keselamatan rakyat sebagai hukum tertinggi – melebihi hukum bisnis tok . Lebih sebagai pilihan ideologis dari pada keuntungan bisnis dan ekonomi.

Bagi saya, Vaksin Sinovac , Astrazeneca , Pfizer , Bio- NTech, dll tetaplah GOLONGAN VAKSIN DARURAT, VAKSIN SEMENTARA, mirip susu kolostrum yang diminun bayi ketika pertama minum susu ibu ( ASI) , bersifat pasif , alami , statis, non kreatif, TIDAK AKTIF/ TIDAK ADAPTIF sesuai perubahan tantangan/ ancaman virus yang selalu berdinamika .
Jadi untuk mendapatkan Kekebalan pasif “dipinjam” dari sumber lain dan bertahan untuk waktu yang singkat- tidak permanen ( ibarat bayi meminjam kekebalan ibu dari susu yang diminun

GOLONGAN VAKSIN SEMENTARA itu berbeda dengan GOLONGAN VAKSIN NUSANTARA ( Nama untuk vaksin berbasis SEL MONO NUKLIR DENDRIT) yang dalam prakteknya di suntik secara berkala- periodiik. Dari aspek bisnis, jenis ini lebih menjanjikan untuk meraup untung besar. Konsumen dikunci dengan kebergantungan pada para produsen dan pebisnis farmasi . Jika saya menggolongkan vaksin global yang sudah beredar itu sebagai vaksin sementara karena memang ada fakta bahwa covid-19 terus mengalami PERUBAHAN KARAKTER/ TINGKAH LAKU ( MITOSIS). Cilakanya Amerika sekalipun belum berhasil memetakan , mematangkan serta mematahkah laju trend – percepatan penyebaran infeksi .

BACA JUGA : Cara Cek Data Penerima Bansos

■ Ketika saintis global memandang pandemi covid 19 sebagai penyakit massal dan penyakit mobilitas, dan karena itu secara strategis dan teknis merespon itu dengan cara preventif dan masal ( tentu dengan sedikit banyaknya mengabaikan komorbiditas) justru sebaliknya di dalam negeri dokter Terawan dan koleganya mencoba dan hampir selesai menemukan sisi lain yang belum dijadikan pertimbangan utama para peneliti global dalam mempersiapkan vaksin Covid-19 .

Terawan, Cs justru mengembangkan Vaksin ADAPTIF, vaksin yang akan selalu merespon lewat mengadaptasi seumur hidup ( tidak temporer ), dan karena itu penyuntikan hanya dilakukan satu kali saja ( ONE WAY- ONE TOUCH )

Pencapaian tipe dan kinerja vaksin Global saat ini, terdapat beberapa kelemahan fundamental ( walaupun kita tahu bahwa usaha untuk menuju kesempurnaan masih tetap terus dilakukan, learning by doing). Beberapa kekurangan Atau paling tidak kita sebut sebagai kelemahan adalah : frekuensi penyuntikan yang lebih banyak ( lebih dari satu kali – repetitif ), sudut atau derajat penyuntikan, kedalaman dan ukuran jarum suntik ( sampai kedalam otot) , maintenance vaksin yang terbilang rumit dan mahal ( membutuhkan teknologi pendinginan suhu rendah/ beku- refrigerasi ), efek samping pasca Vaksinasi yang amat variatif ( karena bergantung juga tergantung pada kormobilitas), rentang umur yang lebih sempit ( 18 -59 tahun ), membutuhkan pelatihan dan keahlian yang cukup terhadap para vaksinator, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melakukan skrining kesehatan awal ( untuk meminimalkan risiko karena pertimbangan kormobiditas ).

BACA JUGA : Cara Membuat Akun di Kma

Sementara para saintis dunia khususnya para peneliti vaksin sedang dilanda kepanikan- yang berbuntut pada harus diterbitkannya ijin penggunaan darurat ( emergency authorisation use ) di berbagai negara ( the Panic of Scientist ), Dr. Terawan, Cs memilih untuk bersikap lebih tenang agar dapat memahami lagi dengan pasti, bukan hanya soal taxonomi, morfologi , efikasi ( kemanjuran) dan fisiologi virus tetapi juga hal lain yang tidak kalah pentingnya terkait berhasil tidaknya proses vaksinasi ditinjau dari sudut starategi , teknis proses serta taknis penangan serta dampaknya terhadap kondisi sasarannya ( obyek vaksinasi ). Pertimbangan yang komprehensif terhadap sisi ruang ( ruang gerak pelaknanaan vaksinasi lebih leluasa- mudah), sisi waktu ( sekali seumur hidup- one way) , sisi materi ( pembiayaan murah) .

Kompetisi produsen vaksin oleh negara dan perusahaan belum akan berhenti sampai disini saja ( learning by doing ), akan tetap sengit. Kompetisi produksi vaksin yang yang lebih paten dari para peneliti yang kompeten pada bidangnya akan terus berlanjut mengingat virus akan terus mengalami perubahan sifat dan karakter ( mutasi ) yang karena itu berarti akan terus menciptakan variasi ancaman dan risiko. Semakin lama atau semakin lambat formulasi vaksin yang paten maka kita akan terus masih Idiperhadapkan pada tantangan yang tidak pernah tuntas .
Karena itu Setiap usaha dan karya yang akan sedang dan telah ditemukan untuk menangani covid 19 secara tuntas ( terlepas itu mau dipandang sebagai hanya sebuah klaim atau tidak ) haruslah dipandang sebagai sebuah langkah maju, yang turut melengkapi respon adaptif umat manusia.

BACA JUGA : Kemajuan Industri 4.0 Akan Dorong Indonesia Menuju Sepuluh Besar Kekuatan Ekonomi Global

Danpak penemuan vaksin nusantara :

  1. Mengangkat moral bangsa ; meningkatkan kepercayaan diri para peneliti dan penemu dalam negeri untuk berani ikut masuk secara aktif dalam lintasan pacu penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan secara umum.
  2. Meningkatkan variasi komoditas ekspor ditengah lesunya dan berkurangnya jenis dan volume ekspor ( dari importir menjadi eksportir- dari penikmat menjadi pelaku, dari penontong menjadi pemain ).
  3. Meningkatkan dan menyelamatkan pendapatan negara ( cadangan devisa ).
  4. Terciptanya iklim kompetisi yang kompetitif di bidang ilmu dan pengetahuan dan khususnya di bidang penemuan yang berkaitan erat dengan berbagai bidang atau sektor pembangunan.
  5. Dapat menjadi pemikat dan pemuka investor berinvestasi di bidang penelitian dan pengembangan vaksin
  6. Dampak negatif seperti, kemarahan yang mungkin oleh para mafia farmasi global yang dengan jaringan dan midal mereka dapat menghambat menggagalkan atau mengambil alih dengan segala macam cara. Mereka tentu tidak akan tingfal diam karena kelangsungan bisnis mereka terancam.
  7. Dst.

Sikap bangsa Indonesia terkait penemuan ini kita harapkan proaktif ( bukan hanya rakyatnya tetapi juga pemerintahnya, tentu termasuk para pengusahanya).

Terawan adalah salah satu nama yang boleh tersebut telah paten, dipercaya karena karyanya, dikenal dengan teknologi terapi cuci otak yang sampai saat ini oleh sekalangan masih dipandang sebagai hal kontroversial. Nama ini sebentar lagi sudah akan jadi semacam merek , sebagaimana produk-produk Global yang dinamai berdasarkan person yang berpengaruh penting atas identikan produknya. Kita tahu produk Kentucky, quacker , johnson & johnson, tesla , dst. Identifikasi dan otentifikasi produk berbasi temuan / formulator.

BACA JUGA : Tiadakan Mudik Lebaran 2021, Presiden: Mari Utamakan Keselamatan Bersama

Vaksin sel dan titik rawan cs, kau pun masih dalam masa uji tahab 2, sudah membuka mata dunia, duniapun sedang mengawasi, berharap-harap cemas.

Bagaimana tidak ?, Indonesia tlh siap membuat kejutan solutif bagi dunia karena fokus menyiapkan formula khusus vaksin yang sesuai dengan tantatang global yang ada. Sebuat teknik pendekatan model pengobatan kanker yang selama ini memang tlh dilakukan dlm bidang kedokteran.

Namun kecerdikan membaca tantangan dan resiko yang luput dari perhatian para sains global, Dr. Terawan dengan koleganysadiam-diam bekerja dalam senyap dan skrg sdh mulai nyata ; ada harapan besar bg umat manusia.

Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari support Presiden Jokowi yang percaya bahwa Pandemi harus di perangi lewat sains evidence.

Satu-satunya di dunia yang menggunakan teknologi SEL DENDRITIK ; Spesialitas tinggi ( individual ) -sesuau komorbiditas individu, safety , segala umur, sekali utk seumur hidup , produk anak bangsa, bisa dimasalisasi , potensian jd komoditas ekspor global, tlh masuk uji tahap dua setelah lolos tahab satu,
Perntanyaan dan kenyataan fundamentalnya :yang sedang terjadi : infeksi meningkat dari level kecepatan ke level percepatan , pemetaan mitosis covid-19 belum selesai, apakan dunia harus terkunci ke dengan model dan modus vaksin sementara dan bukan vaksin Nusantara dengan segala potensinya ?

PEMBAHASAN

BACA JUGA : Mengubah Cara Berfikir Menjadi Orang Kaya

Sel dendritik (DC) mewakili keluarga sel imun heterogen yang menghubungkan imunitas bawaan dan adaptif. Fungsi utama dari sel bawaan ini adalah untuk menangkap, memproses, dan menyajikan antigen ke sel imun adaptif dan memediasi polarisasinya menjadi sel efektor.

Sel dendritik (DC) adalah sel penyaji antigen yang kuat untuk induksi respons sel T spesifik antigen. Vaksin DC telah diperkenalkan sebagai STRATEGI TERAPEUTIK baru pada PASIEN KANKER . IMUNOTERAPI berbasis DC AMAN dan dapat MENINGKATKAN RESPONS IMUN antitumor dan kelangsungan hidup pasien kanker yang berkepanjangan.

Sel dendritik adalah yang PALING EFEKTIF dalam menyajikan antigen peptida ke sel T, terutama antigen TUMOR dan VIRUS yang berasal dari intraseluler, karena mereka memiliki kemampuan untuk ” menyajikan silang ” antigen.

Induksi respon imun spesifik tumor dengan vaksinasi sel dendritik. Sel T spesifik antigen tumor diaktivasi oleh sel dendritik, yang secara ex vivo dimuat dengan antigen tumor. Sel-T yang teraktivasi kemudian berpatroli di tubuh untuk mencari antigen masing-masing.

Satu set, terdiri dari 5 sampai 7 suntikan, harganya rata-rata sekitar 2 juta yen. Biaya rata-rata pengobatan dengan terapi vaksin sel dendritik adalah sekitar 2 juta yen per set ( Rp. 267.220.000.). Bisa anda bayangkan betapa mahalnya teknologi ini jika tidak ditemukan oleh putra bangsa Indonesia sendiri ?!. Jangan heran jika nanti di kemudian hari ada pihak ( mafia & geng farmasi ) alergi terhadap terobosan teknologi dan efisiensi Terawan, Cs.

BACA JUGA : Membangun Kemandirian Rakyat dalam Olahraga

Terapi sel dendritik untuk pasien kanker telah digunakan dalam pengobatan sejak 2010. Lebih dari 4.500 orang telah mengalaminya sejak saat itu. Ini secara efektif digunakan dalam pengobatan kanker payudara, kanker prostat, sarkoma, melanoma, glioma dan kanker lainnya. Selama prosedur, dokter mengekstrak sel yang diperlukan dari darah manusia.

Vaksin kanker merupakan salah satu bentuk imunoterapi yang dapat membantu mendidik sistem kekebalan ( guru & pelatih ) tubuh tentang seperti apa “rupa” sel kanker sehingga dapat mengenali dan menghilangkannya. Vaksin terbukti efektif mencegah penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri.

Perlu untuk diketahui bahwa “Sel T dapat membunuh DC melalui cara yang bergantung pada Fas dan perforin secara in vitro”, dan satu lagi “Sel T CD8 + juga telah dibuktikan untuk membunuh DC selama respon imun anti tumor dan infeksi virus !. Pada titik ini Terrawan Cs, telah mampu menghambat ( inhibisi ) agar Sel T CD8+ tidak aktif.

Sel dendritik hadir di jaringan yang bersentuhan dengan lingkungan luar, seperti kulit (di mana terdapat jenis sel dendritik khusus yang disebut sel Langerhans) dan lapisan dalam hidung, paru-paru, perut, dan usus. Mereka juga dapat ditemukan dalam keadaan belum matang di dalam darah.

Umbi herbal tertentu (Bawang putih ) telah terbukti meningkatkan fungsi sistem kekebalan dengan merangsang makrofag, limfosit, sel pembunuh alami, sel dendritik, dan eosinofil. Ia melakukannya dengan memodulasi sekresi sitokin, produksi imunoglobulin, fagositosis, dan aktivasi makrofag.

BACA JUGA : Membangun Keyakinan Diri Menjadi Orang Sukses

KDC dapat berperan dalam membunuh tumor atau sel yang terinfeksi dengan menggunakan TRAIL, FasL, perforin-Gzm, atau NO. Mekanisme pengenalan sel target sebagian besar tidak diketahui. Setelah membunuh, DC dapat memfagositkan sel apoptosis untuk menyajikan silang Ags ke sel T CD8 +, asalkan mereka menerima sinyal pematangan yang kuat.

Makrofag yang teraktivasi (jenis lain dari sel penyaji antigen) diketahui memiliki umur beberapa hari, dengan beberapa penelitian menunjukkan bahwa ini bisa meluas hingga berminggu-minggu, dan umur sel dendritik yang diaktifkan dipahami serupa.

Sel dendritik (DC) adalah sel pembawa antigen yang berasal dari prekursor sumsum tulang dan membentuk sistem seluler yang tersebar luas di seluruh tubuh. DC menggunakan surveilans imun untuk antigen eksogen dan endogen dan aktivasi selanjutnya dari limfosit T naif yang menimbulkan berbagai respons imunologis.

Perbedaan antara sel dendritik dan makrofag, sampai saat ini keduanya telah dianggap sebagai jenis sel yang relatif terpisah, dengan makrofag menjadi komponen kunci dari sistem kekebalan bawaan sementara sel dendritik berinteraksi dengan sistem kekebalan adaptif dan memodulasi tanggapan kekebalan.

Sel darah merah dewasa, yang tidak memiliki inti, adalah satu-satunya sel yang tidak mengekspresikan molekul MHC di permukaannya. Sebaliknya, molekul MHC II hanya ditemukan pada makrofag, sel dendritik, dan sel B; mereka menghadirkan antigen patogen abnormal atau non-sendiri untuk aktivasi awal sel T.

Terkait sekresi oleh sel dendritik, yang paling luar biasa, mereka berhenti menangkap antigen sambil mengatur ekspresi molekul ko-stimulasi seperti CD80 dan CD86 dan reseptor kemokin CCR7, dan mengeluarkan sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α dan IL-12. Setelah mencapai sinus subkapsular LN, DC pindah ke zona sel T.

BACA JUGA : Presiden Jokowi dan Kanselir Angela Merkel Lakukan Pertemuan Bilateral secara Virtual

Jenis makanan yang meningkatkan sel dendritik adalah jenis probiotik. Probiotik adalah organisme hidup (biasanya bakteri) dalam makanan atau suplemen. “Mereka secara menguntungkan berinteraksi dengan sel-sel sistem kekebalan, seperti sel dendritik, dan meningkatkan fungsi sel-T,” . Jadi dapat konsumsi Yogurt, keju lembut, tempe, kefir, asinan kubis, miso, dan kimchi biasanya mengandung probiotik..

Dendrit (dendron = pohon) adalah proyeksi mirip membran yang muncul dari tubuh neuron, rata-rata sekitar 5-7 per neuron, dan panjangnya sekitar 2 μm. Mereka biasanya bercabang secara luas, membentuk arborisasi seperti kanopi yang lebat yang disebut pohon dendritik di sekitar neuron.

Sel-sel dendritik terletak di KULIT ARI di lapisan suprabasal epidermis, dan dicirikan oleh tingkat CDla yang tinggi pada proses dendritiknya, dan adanya butiran Birbeck. Sering mengaktivasi sel-sel dendritik dengan cara rajin menggosok- gosok kulit penting untuk dibiasakan .

Butiran Sel dendritik mengandung enzim yang merusak atau mencerna patogen dan melepaskan mediator inflamasi ke dalam aliran darah. Leukosit mononuklear meliputi limfosit, monosit, makrofag, dan sel dendritik. Kelompok ini terlibat dalam fungsi sistem imun bawaan dan adaptif.

Sel dendritik merupakan pusat inisiasi respon imun primer. Mereka adalah satu-satunya sel pembawa antigen yang mampu menstimulasi sel T naif, dan karenanya mereka sangat penting dalam pembentukan kekebalan adaptif.

Sel dendritik (DC) memainkan peran penting dalam memajukan penurunan progresif terkait usia dalam respons imun adaptif, hilangnya toleransi, dan perkembangan peradangan kronis.

Sel dendritik adalah sel penyaji antigen yang kuat yang diberkahi dengan kemampuan unik untuk memicu respons sel-T. Untuk menghadirkan antigen asing ke sel T naif, sel dendritik harus bermigrasi dari jaringan perifer yang meradang atau terluka ke kelenjar getah bening terdekat melalui pembuluh limfatik aferen.

BACA JUGA : Presiden Jokowi dan Kanselir Jerman Buka Ajang Hannover Messe 2021

Sel dendritik tidak perlu mencerna patogen karena begitu mereka mengaktifkan sel T, sel B sudah dikeluarkan Abs. DC kurang fagositik

Meskipun akson dan sistem saraf tepi di otak yang sedang berkembang dapat beregenerasi, akson tidak bisa di otak orang dewasa. Ini sebagian karena faktor yang diproduksi oleh sel di otak yang menghambat regenerasi ini. Dendrit, bagaimanapun, akan berkembang dari akson utuh, sebagai bagian dari proses neuroplastisitas.

Dendrit bukan tidak bisa rusak dan ketika rusak , yang terjadi pada hubungan.
Hubungan ini terjadi pada sulur pendek seperti akar yang disebut dendrit, yang tumbuh dari badan sel neuron, atau soma. Karena kehilangan koneksi input, neuron yang terluka juga menjadi lebih bersemangat: neuron menjadi lebih mungkin untuk menembakkan sinyal ke akson yang terpotong ketika dirangsang untuk melakukannya oleh neuron lain

Sel Dendrit itu dari sebab adanya perubahan struktural yang bergantung pada aktivitas dalam sel postsinaptik bertindak bersama dengan perubahan pada tiang aksonal presinaptik untuk membentuk pola konektivitas tertentu dalam sistem saraf. Dengan demikian, pertumbuhan dendrit adalah proses dinamis yang dipengaruhi oleh, dan integral, pembentukan koneksi dalam sistem saraf.

Jenis sel dendritik pada primata, sel dendritik biasanya dibagi menjadi dua kelompok utama: sel dendritik myeloid (mDCs) dan sel dendritik plasmacytoid (pDC)

Sel dendritik sebagai salah satu bagian dari sel darah putih . Lima ( 5 ) Jenis Leukosit dan Fungsinya yang sudah ketahui ilmu pengetahuan seperti :
Monosit. Mereka memiliki umur yang lebih lama daripada banyak sel darah putih dan membantu memecah bakteri.

Limfosit. Mereka menciptakan antibodi untuk melawan bakteri, virus, dan penyerang yang berpotensi berbahaya lainnya.. Terfapat Lima jenis limfosit (Ig-theta-, Ig-theta + lemah, Ig-theta + kuat, Ig + theta- dan Ig + theta +) yang ditandai dengan imunofluoresensi ganda dan mobilitas elektroforetik.

Neutrofil. Mereka membunuh dan mencerna bakteri dan jamur. Mereka adalah jenis sel darah putih yang paling banyak dan garis pertahanan pertama saat infeksi menyerang.

Basofil. Sel-sel kecil ini tampaknya membunyikan alarm ketika agen infeksi menyerang darah . Mereka mengeluarkan bahan kimia seperti histamin, penanda penyakit alergi, yang membantu mengontrol respons kekebalan tubuh.

Eosinofil. Mereka menyerang dan membunuh parasit dan sel kanker, dan membantu respons alergi.

BACA JUGA : Presiden Joko Widodo Tinjau Posko Pengungsi di Kabupaten Lembata, NTT

Sel dendritik juga memproduksi melalui sitokin yang disekresikannya, misalnya: IL-12, IL-23 atau IL-10 serta molekul permukaan yang diekspresikan, misalnya: OX40-L atau ICOS-l, DC dapat mempolarisasi sel T naif menjadi Th1, Th2, Treg atau Th17.

Mekanisme aktifasi sel T oleh sel dendritik ringkasnya begini ; Sel T bertemu dengan sel dendritik (DC) yang membawa peptida serumpunnya dalam molekul MHC, dan mengikat peptida-MHC melalui CD3 dan CD4 atau 8. Selanjutnya, rangsangan bersama terjadi melalui ikatan DC CD86, CD80, OX40L dan 4- 1BBL. Ini menginduksi aktivasi penuh dan fungsi efektor di sel T.

Proses migrasi DC ke dalam limpha dalam kondisi mapan. Dengan tidak adanya peradangan, banyak DC bermigrasi melalui darah, sebagai prekursor, langsung ke limpa dan kelenjar getah bening. Prekursor DC juga dapat bermigrasi ke jaringan perifer, di mana mereka dapat tinggal selama beberapa hari, sebelum melakukan perjalanan melalui getah bening ke kelenjar getah bening lokal.

Keempat, sebagaimana rumitnya dendrit, banyak juga yang menghasilkan tonjolan khusus kecil yang dikenal sebagai duri dendritik, yang merupakan
situs sinapsis rangsang utama di otak mamalia. Terakhir, banyak dendrit neuron berhenti tumbuh di batas yang ditentukan8,13, sehingga menghasilkan bentuk yang matang.

Dendrit – dendrit otak (cabang pohon) adalah tempat neuron menerima masukan dari sel lain. Dendrit bercabang saat mereka bergerak menuju ujungnya, seperti cabang pohon, dan mereka bahkan memiliki struktur seperti daun yang disebut duri..

Dendrit adalah ekstensi khusus tubuh sel. Mereka berfungsi untuk memperoleh informasi ( SEMACAM AGEN RAHASIA- INTELIJEN ) dari sel lain dan membawa informasi itu ke tubuh sel. Banyak neuron juga memiliki akson, yang membawa informasi dari soma ke sel lain, tetapi banyak sel kecil tidak.

BACA JUGA : Gatut Nusantara

Apa yang dilakukan sel dendritik dalam sistem kekebalan?
Sel dendritik (DC) mewakili keluarga sel imun heterogen yang menghubungkan imunitas bawaan dan adaptif.
Fungsi utama dari sel bawaan ini adalah untuk menangkap, memproses, dan menyajikan antigen ke sel imun adaptif dan memediasi polarisasinya menjadi sel efektor

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan jumlah sel dan trip di dalam tubuh, namun satu diantaranya yang paling mudah untuk dilakukan adalah dengan mengkonsumsi Bawang putih ( garlic ) , bisa dikonsumsi dalam bentuk segar atau dalam bentuk ekstrak tepung yang sudah dikabulkan- banyak dijual di situs online , ada pepatah yang cukup terkenal menyangkut bawang dan khasiatnya ” A CLUSTER A DAY IS YOUR DOCTOR – satu siung bawang setiap hari adalah dokter anda ” , telah terbukti meningkatkan fungsi sistem kekebalan dengan merangsang makrofag, limfosit, sel pembunuh alami, sel dendritik, dan eosinofil. Ia melakukannya dengan memodulasi sekresi sitokin, produksi imunoglobulin, fagositosis, dan aktivasi makrofag.

Yang paling luar biasa, sel dentitik berhenti menangkap antigen sambil mengatur ekspresi molekul ko-stimulasi seperti CD80 dan CD86 dan reseptor kemokin CCR7, dan mengeluarkan sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α dan IL-12. Setelah mencapai sinus subkapsular LN, DC pindah ke zona sel T.

Paling tidak, ada 3 tupoksi sistem kekebalan, yakni untuk melawan kuman penyebab penyakit (patogen) seperti bakteri, virus, parasit atau jamur, dan untuk mengeluarkannya dari tubuh,
untuk mengenali dan menetralkan zat berbahaya dari lingkungan, dan.
untuk melawan perubahan penyebab penyakit dalam tubuh, seperti sel kanker, bakteri dan virus.

Menjadi penting untuk mengenali kondisi dan tanda-tanda tubuh kekurangan imunitas , misalnya ketika Tingkat Stres Anda Sangat Tinggi, selalu kedinginan, memiliki banyak masalah dengan perut, luka lambat sembuh, sering mengalami Infeksi, nerasa lelah sepanjang waktu.

Banyak cara sehat yang bisa dilakukan untuk mengaktifkan sistem kekebalan
Hindari rokok ( pasif & aktif ) makan buah dan sayuran, olahragalah teratur, pertahankan berat badan yang sehat, jiika minum alkohol, minumlah secukupnya, tidur yang cukup, hindari infeksi ;seperti sering mencuci tangan dan memasak daging secara menyeluruh.

BACA JUGA : Mafia Obat Obatan Di Bpom Korbankan dr Terawan Dan Vaksin Nusantara

Sistem kekebalan adalah pertahanan tubuh melawan infeksi. Sistem kekebalan (ih-MYOON) menyerang kuman dan membantu kita tetap sehat.

Apa Bagian dari Sistem Kekebalan Tubuh?
Banyak sel dan organ bekerja sama untuk melindungi tubuh. Sel darah putih, disebut juga leukosit (LOO-kuh-sytes), memainkan peran penting dalam sistem kekebalan tubuh.

Beberapa jenis sel darah putih, yang disebut fagosit (FAH-guh-sytes), menghancurkan organisme yang menyerang. Lainnya, disebut limfosit (LIM-fuh-sytes), membantu tubuh mengingat penyerang dan menghancurkannya.

Salah satu jenis fagosit adalah neutrofil (NOO-truh-fil), yang melawan bakteri. Ketika seseorang mungkin mengalami infeksi bakteri, dokter dapat meminta tes darah untuk melihat apakah itu menyebabkan tubuh memiliki banyak neutrofil. Jenis fagosit lain melakukan tugasnya sendiri untuk memastikan bahwa tubuh merespons penyerang.

Dua jenis limfosit adalah limfosit B dan limfosit T. Limfosit mulai keluar di sumsum tulang dan tetap di sana dan matang menjadi sel B, atau pergi ke kelenjar timus untuk matang menjadi sel T. Limfosit B seperti sistem intelijen militer tubuh – mereka menemukan targetnya dan mengirim pertahanan untuk menguncinya. Sel T seperti tentara – mereka menghancurkan penyerang yang ditemukan oleh sistem intelijen.

Ketika tubuh merasakan zat asing (disebut antigen), sistem kekebalan bekerja untuk mengenali antigen dan membuangnya..

Limfosit B dipicu untuk membuat antibodi (juga disebut imunoglobulin). Protein ini mengunci antigen tertentu. Setelah dibuat, antibodi biasanya tinggal di tubuh kita jika kita harus melawan kuman yang sama lagi. Itulah sebabnya seseorang yang sakit karena suatu penyakit, seperti cacar air, biasanya tidak akan sakit lagi.
Demikian pula imunisasi (vaksin) mencegah beberapa penyakit. Imunisasi memperkenalkan tubuh pada antigen dengan cara yang tidak membuat seseorang sakit. Tapi itu memungkinkan tubuh membuat antibodi yang akan melindungi orang tersebut dari serangan kuman di masa depan.

Meskipun antibodi dapat mengenali antigen dan menguncinya, mereka tidak dapat menghancurkannya tanpa bantuan. Itulah tugas sel T. Mereka menghancurkan antigen yang ditandai oleh antibodi atau sel yang terinfeksi atau entah bagaimana diubah. (Beberapa sel T sebenarnya disebut “sel pembunuh”.) Sel T juga membantu memberi sinyal pada sel lain (seperti fagosit) untuk melakukan tugasnya.

BACA JUGA : Siaran Pers IPW

Antibodi juga dapat menetralkan atau merusak racun (zat beracun ) yang diproduksi oleh organisme berbeda
mengaktifkan sekelompok protein yang disebut komplemen yang merupakan bagian dari sistem kekebalan. Pelengkap membantu membunuh bakteri, virus, atau sel yang terinfeksi. Sel-sel khusus dan bagian dari sistem kekebalan ini menawarkan perlindungan tubuh terhadap penyakit. Perlindungan ini disebut kekebalan.

Manusia memiliki tiga jenis kekebalan – bawaan, adaptif, dan pasif:
Kekebalan bawaan: Setiap orang terlahir dengan kekebalan bawaan (atau alami), sejenis perlindungan umum. Misalnya, kulit bertindak sebagai penghalang untuk menghalangi kuman masuk ke dalam tubuh. Dan sistem kekebalan mengenali saat penyerang asing tertentu dan bisa berbahaya.
Kekebalan adaptif: Kekebalan adaptif (atau aktif) berkembang sepanjang hidup kita. Kita mengembangkan kekebalan adaptif ketika kita terkena penyakit atau ketika kita diimunisasi dengan vaksin.
Kekebalan pasif: Kekebalan pasif “dipinjam” dari sumber lain dan bertahan untuk waktu yang singkat. Sebagai contoh, antibodi dalam ASI memberi bayi kekebalan sementara terhadap penyakit yang diderita ibu.
Sistem kekebalan membutuhkan waktu beberapa saat untuk berkembang dan membutuhkan bantuan dari vaksin. Dengan mendapatkan semua vaksin yang direkomendasikan anak tepat waktu, dapat membantu menjaga kesehatan anak kita.

Sel dendritik (DC) mewakili keluarga sel imun heterogen yang menghubungkan imunitas bawaan dan adaptif.
Fungsi utama dari sel bawaan ini adalah untuk menangkap, memproses, dan menyajikan antigen ke sel imun adaptif dan memediasi polarisasinya menjadi sel efektor.

Dendrit adalah pelengkap yang dirancang untuk menerima komunikasi dari sel lain. Mereka menyerupai struktur seperti pohon, membentuk proyeksi yang dirangsang oleh neuron lain dan mengalirkan muatan elektrokimia ke badan sel (atau, lebih jarang, langsung ke akson.

Sel saraf (neuron) memiliki proses ekstensif yang disebut dendrit. Ini menempati area permukaan neuron yang luas. Mereka menerima banyak sinyal dari neuron lain dan mengandung protein khusus yang menerima, memproses, dan mentransfernya ke tubuh sel. Dendrit juga memiliki organel yang memungkinkannya mengubah kepadatan protein sebagai respons terhadap perubahan frekuensi input neuron. Hal ini memungkinkan aktivitas normal di neuron dipertahankan dan membantu mencegah gangguan neurologis seperti epilepsi. Oleh karena itu, dendrit penting untuk fungsi saraf normal dan memainkan peran penting dalam proses fisiologis seperti pembentukan memori

Dari penemuan awal ini, kita sekarang memahami bahwa dendrit adalah serat bercabang yang berasal dari badan sel (soma) neuron. Dendrit menerima pesan elektrokimia, biasanya dalam bentuk neurotransmiter, dari neuron lain melalui reseptor khusus yang terletak di permukaan dendrit .

BACA JUGA : Temui Pengungsi di Adonara, Presiden: Tetap Jalankan Protokol Kesehatan

Neuron memiliki proyeksi khusus yang disebut dendrit dan akson. Dendrit membawa informasi ke badan sel dan akson mengambil informasi dari badan sel

Dendrit adalah ekstensi mirip pohon di awal neuron yang membantu meningkatkan luas permukaan tubuh sel.
Percabangan dendritik dapat meluas dan dalam beberapa kasus cukup untuk menerima sebanyak 100.000 masukan ke satu neuron. Tonjolan kecil ini menerima informasi dari neuron lain dan mengirimkan rangsangan listrik ke soma

Pola drainase dendritik adalah bentuk yang paling umum dan tampak seperti pola percabangan akar pohon. Ini berkembang di daerah yang didasari oleh bahan homogen..Pola paralel terkadang menunjukkan adanya sesar besar yang memotong area batuan dasar yang terlipat tajam

Dendrit adalah proyeksi bercabang dari neuron yang bertindak untuk menyebarkan rangsangan elektrokimia yang diterima dari sel saraf lain ke badan sel, atau soma, dari neuron tempat dendrit memproyeksikan

Probiotik adalah organisme hidup (biasanya bakteri) dalam makanan atau suplemen. “Mereka secara menguntungkan berinteraksi dengan sel-sel sistem kekebalan, seperti sel dendritik, dan meningkatkan fungsi sel-T,”. Yogurt, keju lembut, tempe, kefir, asinan kubis, miso, dan kimchi biasanya mengandung probiotik.

Sel T bertanggung jawab atas imunitas yang dimediasi sel. Sel B, yang matang di sumsum tulang, bertanggung jawab atas imunitas yang dimediasi oleh antibodi. Respons yang dimediasi sel dimulai ketika patogen ditelan oleh sel penyaji antigen, dalam hal ini, makrofag._ ( mu)