WAYANG ADALAH CERMINAN TINGGINYA BUDAYA DAN AJARAN KEHIDUPAN DI NUSANTARA

Radar Nusantara

Dalam alam pikir manusia Nusantara filosofi kehidupan tidak bisa dipengaruhi oleh pola doktrin dan pemaksaan , misalnya seseorang mempelajari hukum dan filsafat hidup bahkan mengenal Tuhan dengan petunjuk yang sifatnya text book atau sebuah dogma yang tertulis bahkan ilmu hukum pun tetap harus berdasarkan logika , saya meyakini bahwa ajaran dan budaya leluhur Indonesia atau Nusantara jauh lebih tinggi dari Arab atau Bangsa lainnya tapi kenapa kita ketinggalan?

Itu karena kita mulai melupakan ajaran leluhur kita, bahkan dalam kajian Islam sekalipun Islam Indonesia mempunyai dasar pemikiran yang jauh lebih tinggi daripada yang asli datang dari negara asalnya di Arab , ajaran kejawen yang berasimilasi dengan Islam yang dinamakan Islam Nusantara sama sekali tidak menyalahi tauhid bahkan secara filosofi sama dengan ajaran sufisme yang dikembangkan oleh Imam Al Gazali, Syeikh Abdul Qadir Jaelani ataupun Maulana Jalaluddin Rumi.

Sebelumnya saya sudah pernah menceritakan. Bahwa penduduk Nusantara pada jaman dahulu adalah satu kesatuan dimana yang tertua adalah suku Jawa atau sunda saya mengklasifikasikan sama saja karena ilmuwan Barat ada yang mengatakan Indonesia ketika menjadi satu daratan antara Jawa, Sumatera dan semenanjung Malaka dan kalimantan menamakannya dengan Sundaland atau Javaland bahkan orang -orang Yunani menamakan daratan Atlantis. Coba kita perhatikan bahasa Jawa, sunda dan Sumatera terutama Sumatera Selatan hampir sama. Bahasa Jawa dan sunda sebenarnyapun sama hanya berbeda beberapa kata atau aksen huruf saja yang berbeda dari “a” menjadi “o” dan penafsiran bahasa ke bahasa melayu pun induknya sama , yaitu bahasa sansekerta. Jadi intinya bahwa penduduk Nusantara adalah berasal dari suku Jawa atau sunda semua bersaudara atau satu rumpun.

BACA JUGA : Pemerintah resmi mencanangkan Candi Prambanan di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Candi Borobudur, Candi Pawon, dan Candi Mendut di Jawa Tengah menjadi tempat ibadah umat Hindu dan Buddha dari seluruh dunia.

Agama yang masuk ke Indonesiapun diperlakukan secara toleran bisa sangat toleran oleh masyarakat Indonesia. Ini bisa dibuktikan dengan bangunan mesjid di Aceh ketika masih sebagian besar penduduk Nusantara menganut agama Hindu dan Budha bahkan makam muslim banyak terdapat di singosari ketika jaman Majapahit ketika para pedagang Tiongkok yang lebih dahulu menganut Islam masuk ke Indonesia, orang Indonesia memang mempunyai pandangan keagamaan yang toleran karena karena memiliki budaya dan falsafah hidup yang sudah tinggi daripada kaum.pendatang, seperti kita ketahui falsafah kejawen adalah monotheisme sama dengan. Semua agama yang ada di Indonesia.

Langkah -langkah penyebaran ajaran leluhur ini diwajibkan secara turun temurun sejak jaman prasejarah di Indonesia oleh karenanya kelemahan Indonesia sejak jaman dulu adalah masa pencatatan atau kesusatraan tapi bukti paling Kuno adalah wayang budaya menyampaikan filsafat dan ajaran kehidupan yang dilakukan secara turun temurun.

UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7. November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukan boneka bayangan tersohor dari Indonesia, sebuah Warisan Mahakarya Dunia yang Tak Ternilai dalam Seni Bertutur (bahasa Inggris: Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

BACA JUGA : Ngobras Bareng Ihsan Fadhlur Rahman, Bamsoet Bahas Metaverse, Web 3, Cryptocurrency Hingga NFT Hingga Perlunya Indonesia Buka kantor kedutaan besar di jagat metaverse di Decentraland

Sampai saat ini, catatan awal yang bisa didapat tentang pertunjukan wayang berasal dari Prasasti Balitung pada Abad ke 4 yang berbunyi si Galigi mawayang hal ini menjadi bukti bahwa Indonesia pernah memiliki.pusat kebudayaan Jawa di Belitung.

Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia dan menyesuaikan kebudayaan yang sudah ada, seni pertunjukan ini menjadi media efektif menyebarkan agama Hindu. Pertunjukan wayang menggunakan cerita Ramayana dan Mahabharata.

Para Wali Songo di Jawa, sudah membagi wayang menjadi tiga. Wayang Kulit di timur, wayang wong di Jawa Tengah dan wayang golek di Jawa Barat. Adalah Sunan Kali Jaga yang berjasa besar. Carilah wayang di Jawa Barat, golek ono dalam bahasa jawi, sampai ketemu wong nya isinya yang di tengah, jangan hanya ketemu kulit nya saja di Timur di wetan wiwitan. Mencari jati diri itu di Barat atau Kulon atau kula yang ada di dalam dada hati manusia. Maksud para Wali terlalu luhur dan tinggi filosofi nya. Wayang itu tulen dari Jawa asli, pakeliran itu artinya pasangan antara bayang bayang dan barang aslinya. Seperti dua kalimah syahadat. Adapun Tuhan masyrik wal maghrib itu harus diterjemahkan ke dalam bahasa jawa dulu yang artinya wetan kawitan dan kulon atau kula atau saya yang ada di dalam. Carilah tuhan yang kawitan pertama dan yang ada di dalam hati manusia.

Demikian juga saat masuknya Islam, ketika pertunjukan yang menampilkan “Tuhan” atau “Dewa” dalam wujud manusia dilarang, munculah boneka wayang yang terbuat dari kulit sapi, di mana saat pertunjukan yang ditonton hanyalah bayangannya saja. Wayang inilah yang sekarang kita kenal sebagai wayang kulit. Untuk menyebarkan Islam, berkembang juga wayang Sadat yang memperkenalkan nilai-nilai Islam.

BACA JUGA : GUS MUS : BANYAK YANG PAMER KEBODOHAN KARENA GAK MAU NGAJI

Ketika misionaris Katolik, Bruder Timotheus L. Wignyosubroto, FIC pada tahun 1960 dalam misinya menyebarkan agama Katolik, ia mengembangkan Wayang Wahyu, yang sumber ceritanya berasal dari Alkitab dan dipercaya bahwa penyebaran agama Kristen inipun sudah dilakukan sejak jaman portugis pada abad ke 15 masuk ke Indonesia.

Semua ajaran agama yang masuk ke Indonesia melalui wayang bisa mudah dicerna dan diakui merupakan ajaran dan filsafat yang tinggi karena masyarakat tidak merasa didoktrin dan bisa memahami ajaran tersebut secara konferhensip dan merasakan langsung dengan emosinya memahami falsafah yang disampaikan dengan teladan cerita dan tanpa merasa didoktrin atau ditakut- takuti dengan reward and Punishment seperti surga dan neraka. Artinya betapa tingginya budaya Indonesia dalam kemasyarakatan.

Dimensi religi atau keyakinan dan kepercayaan masyarakat menjadi dasar dalam setiap tindakan yang dilakukan. Di dalamnya terdapat usaha-usaha untuk mencari makna tentang kehidupan, yaitu usaha untuk mendapatkan pemahaman tentang dasar – awal segala sesuatu, renungan tentang apa yang terdapat di belakang segala wujud lahir, dan usaha untuk mencari hal-hal mendasar lainnya yang mencakup arti hidup manusia, asal – mula dan akhir kehidupan, serta bagaimana manusia mampu mengadakan hubungan dengan Tuhan dan dunia (Ciptoprawiro, 2000: 11).

BACA JUGA : Anton Khawatirkan Jika Radikalis Kuasai Indonesia

Di dalam kehidupan masyarakat Jawa, usaha-usaha tersebut dilakukan melalui perenungan diri tentang entitas tertinggi yang menguasainya. Perenungan tersebut mendasari munculnya cerita-cerita wayang yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan Jawa. Melalui cerita-cerita wayang ini, hasil perenungan terhadap kehidupan ditawarkan oleh seorang dalang kepada masyarakat luas. Di sini kita menganggap bahwa seorang dalang memiliki pengetahuan lebih untuk mempelajari kitab-kitab kuno yang memiliki ajaran budi luhur.

Salam Persatuan dan Cinta Indonesia,

Oleh : H.Tito Suwarto
Sekretaris Jendral Lebikraf NU dan Santri Bela Negara